TERKINI
25.2°C Mist
Kategori.
Ekonomi & Bisnis

Solar Langka Melanda Jatim, Antrean SPBU Mengular Sampai 1 Kilometer

Dinda Indrawati Friday, 26 June 2026 • 13:00 WIB 6 menit baca Kota Surabaya
Solar Langka Melanda Jatim, Antrean SPBU Mengular Sampai 1 Kilometer
Foto: Viva Jatim
Bagikan

JATIM24, Surabaya - Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Biosolar melanda hampir seluruh wilayah Jawa Timur sejak pertengahan pekan ini. Antrean kendaraan berat mengular panjang di ratusan SPBU dari Lumajang hingga Pamekasan, dengan panjang antrean di sejumlah titik mencapai satu kilometer lebih. Para sopir truk dan bus terpaksa menunggu berjam-jam bahkan bermalam di SPBU demi mendapatkan giliran mengisi bahan bakar.

Kuota Biosolar Juni Sudah Terlampaui 100 Persen

Penyebab utama kelangkaan ini adalah habisnya kuota berjalan Biosolar untuk wilayah Jawa Timur jauh sebelum bulan Juni berakhir. Area Manager Communication, Relations dan CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) Ahad Rahedi mengonfirmasi bahwa realisasi penyaluran Biosolar di Jawa Timur hingga Juni 2026 telah melampaui 100 persen dari kuota berjalan. Kondisi serupa juga terjadi pada Pertalite yang sudah mencapai 96 persen dari alokasi bulan ini.

  • Realisasi Biosolar Jatim Juni 2026: telah melampaui 100 persen dari kuota berjalan.

  • Realisasi Pertalite Jatim Juni 2026: sudah mencapai 96 persen dari kuota berjalan.

  • Kelangkaan dirasakan di Lumajang, Surabaya Raya, Malang, Mojokerto, Pasuruan, Sidoarjo, Pamekasan, dan Sumenep.

  • Pertamina mengerahkan 12 armada tangki bantuan Biosolar sejak 23 Juni 2026.

Kondisi habisnya jatah kuota berjalan inilah yang membuat sejumlah SPBU tidak dapat menerima pasokan tambahan di luar jadwal distribusi reguler, sehingga stok di pompa kosong lebih cepat dari biasanya. Di saat yang sama, permintaan justru melonjak, memperburuk situasi di lapangan.

Peta Kelangkaan: Dari Lumajang hingga Pasuruan

Kelangkaan Biosolar tidak hanya terjadi di satu atau dua daerah, melainkan menyebar merata di hampir seluruh penjuru Jawa Timur. Di Kabupaten Lumajang, antrean truk-truk pasir mengular hingga 500 meter di SPBU Desa Lempeni, Kecamatan Tempeh, dengan sejumlah sopir mengaku sudah memarkirkan kendaraannya sejak sebelum subuh namun belum juga mendapat giliran mengisi bahan bakar hingga beberapa jam kemudian.

Di kawasan Surabaya Raya, pantauan di lapangan menunjukkan antrean kendaraan berat mengular hingga satu kilometer di SPBU Margomulyo dan kawasan MERR, memicu kemacetan yang mengganggu arus lalu lintas di sekitarnya. Di Sidoarjo, sejumlah SPBU di kawasan Candi sudah memasang papan pengumuman bertuliskan "Solar Habis", sementara beberapa sopir bahkan dilaporkan terpaksa menginap di SPBU Waru demi tidak kehilangan giliran antrean keesokan harinya.

Jalur Pantai Utara (Pantura) di Kabupaten Pasuruan menjadi salah satu titik paling parah. Antrean kendaraan berat mengular hingga satu kilometer di sejumlah SPBU yang tersebar di sepanjang rute ini, antara lain SPBU Beji, Raci, Pandelegan Raci, Karangketug, dan Nguling. Kemacetan bahkan merembet hingga ke ruas Jalan Raya Winongan yang berdekatan. Di Kota Malang, antrean panjang terpantau di SPBU Jalan Raden Panji Suroso, Kecamatan Blimbing, sementara di Mojokerto deretan kendaraan besar mencapai lebih dari 200 meter di SPBU Bypass Meri.

Jeritan Para Sopir: Berangkat Subuh, Baru Dapat Siang

Di balik deretan angka dan peta persebaran kelangkaan, ada kisah pahit para pekerja lapangan yang paling merasakan dampak langsung dari krisis ini. Sejumlah sopir truk yang ditemui di berbagai titik antrean mengungkapkan keresahan mereka kepada awak media. Salah seorang sopir truk pasir di Lumajang mengaku mulai mengantre sejak pukul 03.00 WIB dini hari, namun hingga pukul 10.00 WIB belum juga berhasil mengisi bahan bakar. Ia mengaku tidak mengetahui kapan situasi ini akan kembali normal.

Sopir truk ekspedisi rute Surakarta–Surabaya bernama Odik (25) menceritakan pengalaman serupa. Ia mengaku sudah mengantre sejak Rabu malam pukul 23.00 WIB dan baru berhasil mendapatkan solar keesokan harinya pukul 12.00 WIB, setelah tangki kendaraannya sudah hampir kosong dengan sisa hanya sekitar 10 liter. Ia mengaku melewati delapan SPBU sepanjang jalur Solo–Surabaya tanpa berhasil mengisi, karena semua dalam kondisi kehabisan stok atau antrean yang tidak bergerak.

Sopir lain bernama Hendra, yang biasanya mampu menyelesaikan dua rit pengangkutan pasir dalam satu hari kerja, mengaku tidak bisa bekerja sama sekali akibat antrean solar yang macet total. Ia juga mengeluhkan stok Pertalite yang ikut tersendat, sementara Pertamax yang tersedia dinilai terlalu mahal bagi kalangan sopir dan petani kecil yang mengandalkan BBM subsidi untuk menyambung nafkah sehari-hari.

Perdebatan Penyebab: Kuota Dipangkas vs Lonjakan Konsumsi

Kelangkaan ini memunculkan dua versi penjelasan yang saling bertolak belakang dari pihak-pihak yang berwenang. Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Provinsi Jawa Timur Sundoro menyatakan bahwa kelangkaan ini diduga kuat dipicu oleh kebijakan pemangkasan kuota solar subsidi oleh pemerintah sebesar 1,2 persen dari total alokasi awal yang ditetapkan sebesar 18 juta kiloliter untuk tahun ini. Menurutnya, sistem penguncian volume pasokan harian membuat SPBU tidak berkutik ketika jatah habis, dan sopir terpaksa berburu ke SPBU lain yang juga ternyata sama kondisinya.

Sundoro menegaskan bahwa masalah sesungguhnya bukan pada harga, melainkan pada kepastian distribusi yang kini tidak bisa diandalkan oleh para pelaku usaha angkutan. Ia mendesak pemerintah melakukan evaluasi total terhadap skema distribusi BBM subsidi agar kerugian ekonomi akibat kelangkaan ini tidak terus berlanjut.

Di sisi lain, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Timur menyebut penyebab utama adalah lonjakan konsumsi yang tidak terduga di tengah masyarakat, bukan pemangkasan kuota. Dinas ESDM memperkirakan kondisi pasokan akan berangsur normal dalam satu hingga dua hari ke depan. Pihak dinas juga memastikan tidak ada rencana kenaikan harga Biosolar dari pemerintah dalam waktu dekat, dan mengimbau masyarakat untuk tidak terpengaruh isu tersebut.

Pertamina Terapkan Double Alih Suplai Hari Ini

Merespons situasi yang kian genting, PT Pertamina Patra Niaga mengambil sejumlah langkah darurat. Sejak 23 Juni 2026, Pertamina telah mengerahkan 12 armada tangki bantuan khusus Biosolar yang difokuskan pada area-area vital seperti akses gerbang tol, kawasan pelabuhan, dan jalur-jalur logistik utama di Jawa Timur.

Pada hari ini, Jumat (26/6/2026), Pertamina menerapkan skema tambahan berupa mekanisme double alih suplai, yakni penggandaan volume pengiriman BBM dari terminal pasokan utama (supply point) maupun dari terminal terdekat menuju SPBU-SPBU yang mengalami antrean paling parah. Pertamina berharap mekanisme ini dapat segera mengurai antrean dan mengembalikan kondisi penyaluran ke situasi normal dalam waktu sesingkat mungkin.

Pertamina juga menegaskan komitmen untuk memperketat pengawasan agar BBM bersubsidi tetap tersalurkan secara tepat sasaran dan tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak berhak. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembelian BBM dalam jumlah berlebihan (panic buying) dan tetap membeli sesuai kebutuhan harian kendaraan. Bagi yang membutuhkan informasi atau ingin menyampaikan pengaduan, Pertamina membuka layanan melalui Pertamina Contact Center di nomor 135.

Dampak Ekonomi: Logistik Lumpuh, Jadwal Berantakan

Krisis pasokan Biosolar ini tidak sekadar membuat sopir mengantre berjam-jam, tetapi juga mengganggu rantai logistik yang menjadi tulang punggung perekonomian Jawa Timur. Keterlambatan pengiriman barang dari berbagai daerah mulai dilaporkan, menyusul banyaknya armada truk logistik yang terpaksa berhenti di satu titik karena kehabisan bahan bakar. Industri yang mengandalkan kiriman bahan baku maupun distribusi produk jadi turut merasakan dampak turunannya.

Para pelaku usaha di sektor transportasi dan logistik mendesak pemerintah pusat untuk segera mengambil kebijakan konkret guna menyelesaikan akar masalah distribusi Biosolar, bukan hanya mitigasi jangka pendek. Situasi ini menjadi ujian nyata bagi kesiapan Indonesia mengelola distribusi energi bersubsidi secara adil dan merata di seluruh pelosok wilayah, termasuk Jawa Timur yang merupakan provinsi dengan aktivitas logistik tertinggi kedua di Indonesia.

Ketik minimal 2 huruf untuk mulai mencari