JATIM24, Lamongan - Inovasi pertanian urban yang unik dan inspiratif datang dari Kabupaten Lamongan. Seorang warga berhasil menyulap atap atau rooftop rumahnya menjadi lahan kebun melon yang produktif dan menguntungkan, memanfaatkan lahan sempit di kawasan permukiman padat untuk menghasilkan buah berkualitas tinggi.
Bermula dari Keterbatasan Lahan
Ide memanfaatkan atap rumah sebagai kebun melon lahir dari kebutuhan untuk memaksimalkan lahan yang terbatas di lingkungan permukiman. Dengan menggunakan sistem tanam di polybag berukuran besar yang ditata rapi di atas rooftop, pemilik kebun berhasil menunjukkan bahwa bertani tidak melulu membutuhkan lahan yang luas di pedesaan.
Kebun melon dibangun di atap atau rooftop rumah warga Lamongan.
Memanfaatkan polybag berukuran besar sebagai media tanam utama.
Buah melon yang dihasilkan memiliki kualitas tinggi dan diminati pasar lokal.
Konsep ini dinilai cocok dikembangkan di kawasan permukiman padat perkotaan.
Sistem dan Teknik Bertanam
Teknik budidaya melon di rooftop ini mengandalkan sistem irigasi tetes sederhana yang menjaga kelembapan tanah secara konsisten tanpa membuang banyak air. Penggunaan polybag memungkinkan pengelolaan nutrisi tanaman yang lebih terukur dibandingkan menanam langsung di tanah, serta memudahkan rotasi tanaman secara berkala untuk menjaga produktivitas lahan secara berkelanjutan.
Paparan sinar matahari langsung di atas atap yang lebih optimal dibandingkan lahan di bawah naungan menjadi keuntungan tambahan dalam budidaya melon, karena tanaman ini membutuhkan intensitas cahaya yang tinggi untuk menghasilkan buah dengan kadar gula dan kualitas yang baik.
Respons Positif Warga dan Pemerintah Daerah
Kebun melon rooftop ini menarik perhatian luas warga sekitar maupun netizen setelah gambarnya tersebar di media sosial. Pemerintah daerah Kabupaten Lamongan menyambut positif inovasi ini sebagai salah satu contoh nyata penerapan konsep pertanian urban yang dapat direplikasi oleh warga lain di kawasan permukiman dengan keterbatasan lahan.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Lamongan menyatakan ketertarikan untuk menjadikan kebun melon rooftop ini sebagai percontohan bagi program pemberdayaan pertanian perkotaan yang tengah digalakkan pemerintah daerah, sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan di tingkat rumah tangga.
Potensi Ekonomi yang Menjanjikan
Dari sisi ekonomi, budidaya melon di rooftop dinilai memiliki prospek yang cukup menjanjikan. Harga jual melon premium per kilogram yang relatif tinggi, dikombinasikan dengan rendahnya biaya sewa lahan karena memanfaatkan atap rumah sendiri, membuat margin keuntungan usaha ini cukup kompetitif dibandingkan komoditas hortikultura lainnya.
Inovasi pertanian urban semacam ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi warga kota dan permukiman padat lainnya di Jawa Timur untuk tidak menyia-nyiakan setiap jengkal lahan yang tersedia, sekaligus menjadi langkah konkret dalam mendukung program ketahanan pangan berbasis rumah tangga yang digalakkan pemerintah.
Mendorong Ketahanan Pangan Rumah Tangga
Inovasi pertanian urban di Lamongan ini sejalan dengan program nasional ketahanan pangan berbasis keluarga yang mendorong setiap rumah tangga untuk memanfaatkan lahan tersedia, sekecil apapun, untuk memproduksi pangan secara mandiri. Pemerintah Kabupaten Lamongan berencana mendokumentasikan teknik budidaya melon rooftop ini sebagai panduan yang dapat disebarluaskan kepada warga lain, agar semakin banyak keluarga yang terinspirasi untuk mengubah ruang tidur sempit menjadi sumber produktivitas pangan yang nyata bagi keluarga mereka.
Keberhasilan warga Lamongan ini turut membuktikan bahwa kreativitas dan kemauan untuk berinovasi adalah modal terpenting dalam berwirausaha, bahkan tanpa memiliki lahan luas sekalipun. Dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah dan komunitas pertanian setempat, model kebun melon rooftop ini diharapkan dapat berkembang menjadi salah satu ikon agrowisata perkotaan yang unik dan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin menyaksikan langsung pertanian kreatif di atap rumah warga Lamongan.