JATIM24, Surabaya - Hujan lebat yang mengguyur Kota Surabaya sejak dini hari Senin (22/6/2026) menyebabkan banjir dan genangan di 17 titik yang tersebar di berbagai wilayah kota. Merespons kondisi tersebut, Dinas Kesehatan Kota Surabaya langsung menyiagakan tim kesehatan keliling untuk mengantisipasi potensi lonjakan penyakit yang kerap muncul pascabanjir di kalangan warga terdampak.
17 Titik Banjir Sejak Subuh
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya mencatat hingga pukul 09.25 WIB, sebanyak 15 dari 17 titik genangan masih belum surut dan terus ditangani petugas di lapangan. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Surabaya Linda Novanti menyampaikan bahwa petugas gabungan terus berjaga dan melakukan pemantauan di seluruh lokasi terdampak secara intensif.
Genangan mencapai ketinggian hingga 50 sentimeter di kawasan Nginden.
Titik terdampak meliputi Jalan Ngagel Kebonsari, Jalan Simo Hilir Raya, Jalan Tanjungsari, dan sekitarnya.
Penyebab: konvergensi angin, backwater effect laut pasang, dan kiriman debit dari hulu sungai.
BPBD memperkirakan risiko genangan lebih besar pada 28-30 Juni 2026 saat pasang maksimum.
Penyebab Banjir di Musim Kemarau
Prakirawan BMKG Juanda Bhilda Maulida menjelaskan bahwa hujan yang mengguyur Surabaya pagi ini dipicu oleh hangatnya suhu air laut di sekitar Selat Madura yang memicu pembentukan awan hujan, meski wilayah Jawa Timur secara umum sudah memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut diperparah oleh fenomena backwater effect, yakni hambatan pembuangan air ke laut akibat pasang, yang membuat genangan lebih sulit surut secara optimal.
Kepala BPBD Surabaya Irvan Widyanto menambahkan, kawasan yang sistem drainasenya bergantung pada rumah pompa sangat rentan terhadap kondisi pasang surut laut, karena pompa tidak dapat membuang air ke laut secara maksimal saat pasang berlangsung.
Tim Kesehatan Siap Antisipasi Penyakit Pasca Banjir
Dinas Kesehatan Kota Surabaya mengaktifkan tim kesehatan keliling yang bertugas memantau kondisi warga di kawasan terdampak banjir dan menyiapkan layanan pengobatan sederhana bagi warga yang membutuhkan. Sejumlah penyakit yang kerap muncul pascabanjir dan menjadi kewaspadaan tim kesehatan antara lain diare akibat kontaminasi air, penyakit kulit, leptospirosis, serta gangguan saluran pernapasan akibat kondisi lingkungan yang lembap.
Warga di kawasan terdampak diimbau untuk tidak mengonsumsi air mentah dari sumber yang tergenang, mencuci tangan secara rutin menggunakan sabun, serta segera memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala demam, diare, atau keluhan kulit setelah terpapar banjir.
Waspada Akhir Juni: Pasang Laut Tertinggi
BPBD dan BMKG Maritim Tanjung Perak memperingatkan bahwa periode 28-30 Juni 2026 menjadi waktu yang paling perlu diwaspadai warga Surabaya, karena pasang laut diprakirakan mencapai nilai maksimum hingga sekitar 1,4 meter. Apabila kondisi tersebut bertepatan dengan hujan sedang hingga lebat, risiko genangan yang lebih parah akan meningkat secara signifikan dibandingkan kejadian 22 Juni ini.
Pemkot Surabaya juga terus menggencarkan program pembangunan delapan rumah pompa baru yang ditargetkan rampung pada Oktober 2026, sebagai upaya jangka menengah dalam meningkatkan kapasitas drainase kota untuk menghadapi kondisi cuaca ekstrem serupa di masa mendatang.
Pembangunan Rumah Pompa Baru Dipercepat
Pemkot Surabaya menegaskan komitmen untuk mempercepat pembangunan delapan rumah pompa baru yang ditargetkan rampung Oktober 2026 guna meningkatkan kapasitas pengelolaan air dan drainase kota secara keseluruhan. Selain itu, normalisasi saluran drainase secara berkala terus dilakukan sebagai upaya jangka pendek dalam mengurangi risiko genangan. Warga juga diimbau tidak membuang sampah sembarangan ke saluran air, karena penyumbatan akibat sampah menjadi salah satu faktor yang memperparah genangan di sejumlah titik.