JATIM24, Magetan - Lonjakan harga kedelai impor yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir membuat para perajin tempe di Kabupaten Magetan terjepit. Demi mempertahankan harga jual agar tetap terjangkau oleh konsumen, sebagian besar perajin memilih strategi adaptasi yang tidak ideal: memperkecil ukuran produk dan mengurangi volume produksi harian mereka.
Harga Kedelai Meroket, Margin Perajin Tergerus
Kedelai impor menjadi bahan baku utama yang tidak tergantikan dalam proses pembuatan tempe. Ketika harga komoditas ini bergejolak di pasar internasional dan diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, dampaknya terasa langsung hingga ke dapur-dapur produksi para perajin tempe di tingkat rumahan di Magetan.
Para perajin yang ditemui mengungkapkan bahwa kenaikan harga kedelai impor kali ini terasa lebih berat dibandingkan periode sebelumnya. Harga beli kedelai naik signifikan dalam waktu singkat, sementara harga jual tempe di tingkat konsumen tidak bisa serta-merta dinaikkan karena risiko pembeli berpaling atau menurunnya permintaan pasar.
Harga kedelai impor naik signifikan dalam beberapa pekan terakhir akibat pelemahan rupiah.
Perajin memilih perkecil ukuran tempe daripada naikkan harga jual ke konsumen.
Volume produksi harian dikurangi untuk menyesuaikan dengan kemampuan modal yang tersedia.
Kedelai lokal tidak mencukupi kebutuhan produksi nasional sehingga ketergantungan impor masih tinggi.
Strategi Perajin: Perkecil Ukuran, Pertahankan Harga
Pilihan memperkecil ukuran tempe alih-alih menaikkan harga menjadi strategi yang paling banyak ditempuh para perajin di Magetan. Logikanya sederhana: konsumen, terutama ibu rumah tangga dan pedagang warteg, cenderung lebih sensitif terhadap perubahan harga daripada perubahan ukuran produk yang tidak langsung terasa di mata telanjang.
Namun strategi ini tidak bisa bertahan tanpa batas. Apabila harga kedelai impor terus merangkak naik dan tidak ada intervensi dari pemerintah berupa operasi pasar atau stabilisasi harga, para perajin mengaku tidak punya pilihan lain selain menaikkan harga jual atau menghentikan sementara produksi. Kedua opsi ini sama-sama berpotensi merugikan baik perajin maupun konsumen akhir yang selama ini mengandalkan tempe sebagai sumber protein hewani termurah dalam menu sehari-hari.
Dampak Berantai ke Pedagang dan Konsumen
Perubahan ukuran tempe yang diperkecil turut dirasakan oleh para pedagang di pasar tradisional Magetan. Sejumlah pedagang mengaku menerima pertanyaan dari pembeli yang merasa ukuran tempe yang mereka beli lebih kecil dari biasanya, meski harganya tetap sama. Penjelasan soal naiknya harga kedelai impor pun menjadi bagian dari percakapan sehari-hari di los-los pasar tradisional kota ini.
Bagi konsumen, terutama keluarga kelas bawah yang mengandalkan tempe sebagai lauk murah bergizi, perubahan ini secara tidak langsung berarti berkurangnya asupan protein dari tempe untuk nilai uang yang sama. Dampak kumulatif dari kondisi ini terhadap gizi masyarakat berpenghasilan rendah patut mendapat perhatian lebih dari pemerintah daerah dan pusat.
Harapan Perajin: Stabilisasi Harga Kedelai Impor
Para perajin tempe di Magetan menyampaikan harapan agar pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga kedelai, baik melalui operasi pasar, negosiasi tarif impor, maupun kebijakan buffer stock yang lebih memadai. Mereka juga berharap program pengembangan kedelai lokal dipercepat agar ketergantungan terhadap kedelai impor yang sangat fluktuatif dapat dikurangi secara bertahap.
Kondisi yang menimpa perajin tempe Magetan ini sesungguhnya mencerminkan situasi yang dihadapi oleh jutaan perajin tempe di seluruh Jawa Timur dan Indonesia, yang seluruhnya menanggung beban yang sama akibat fluktuasi harga kedelai impor yang di luar kendali mereka. Tanpa kebijakan yang berpihak pada pelaku usaha kecil ini, ketahanan pangan berbasis protein nabati yang selama ini menjadi andalan masyarakat Indonesia akan terus terancam setiap kali nilai tukar rupiah bergejolak.