JATIM24, Surabaya - Di antara 13 orang yang diamankan aparat kepolisian saat pembubaran demonstrasi di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat malam (26/6/2026), terdapat sejumlah nama yang sama sekali tidak terduga. Bukan hanya peserta aksi, seorang penjual es jinjing yang tengah berjualan di sekitar lokasi dan seorang pekerja warung kopi juga ikut digelandang ke Mapolrestabes Surabaya. Kejadian ini memantik keprihatinan publik dan memicu pertanyaan soal mekanisme pengamanan yang diterapkan aparat saat proses pembubaran berlangsung.
Kronologi: Pembubaran Berlangsung Cepat dan Masif
Situasi di depan Grahadi berubah drastis setelah Magrib. Setelah tiga kali peringatan tidak diindahkan oleh massa yang masih bertahan, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie Sulistiawan memimpin langsung gerakan memukul mundur massa menggunakan barikade bermotor dan tiga unit kendaraan taktis. Dalam tempo singkat, ribuan orang yang memadati Jalan Gubernur Suryo berhamburan ke segala arah.
Di tengah kekacauan saat aparat bergerak cepat mengidentifikasi dan menggiring siapapun yang dianggap mencurigakan, orang-orang yang kebetulan berada di sekitar lokasi — termasuk para pedagang kaki lima yang mencari nafkah dari keramaian aksi — ikut terjaring dalam proses pengamanan tersebut.
KontraS: Ada Penjual Es dan Pekerja Warkop dalam Daftar
Koordinator Badan Pekerja KontraS Surabaya Fathul Khoir yang langsung turun ke lapangan memberikan pendampingan hukum menyampaikan temuannya kepada awak media. Dari 13 orang yang diamankan, hingga Jumat malam baru empat identitas yang berhasil terverifikasi melalui aduan yang masuk ke KontraS. Keempatnya terdiri dari dua mahasiswa dan dua pekerja informal.
Salah satu yang sudah teridentifikasi adalah seorang pekerja warung kopi, yang berdasarkan keterangan keluarganya tidak aktif sebagai peserta demonstrasi. Sementara dari pantauan di lapangan dan laporan yang diterima KontraS, seorang penjual es jinjing yang sedang berjualan di sekitar kawasan Grahadi juga masuk dalam daftar mereka yang diamankan polisi.
Total diamankan: 13 orang — 12 laki-laki, 1 perempuan.
Baru 4 identitas terverifikasi KontraS hingga Jumat malam: 2 mahasiswa, 2 pekerja informal.
Salah satu pekerja informal adalah karyawan warung kopi.
Seorang penjual es jinjing yang berjualan di sekitar lokasi turut diamankan.
KontraS: Belum Ada Penjelasan Resmi soal Dasar Penangkapan
Fathul Khoir menyampaikan bahwa hingga saat laporan ini diturunkan, KontraS belum mendapatkan penjelasan resmi dari pihak kepolisian mengenai dasar hukum penangkapan terhadap masing-masing individu yang diamankan. Hal ini menjadi catatan penting, terutama untuk mereka yang tidak terbukti terlibat dalam aksi perusakan maupun pelemparan yang menjadi alasan polisi membubarkan massa.
KontraS Surabaya menegaskan komitmennya untuk mendampingi seluruh pihak yang diamankan — tanpa memandang latar belakang maupun alasan keberadaan mereka di lokasi kejadian. Menurut Fathul, setiap orang yang ditangkap berhak mendapat pendampingan hukum dan tidak boleh diperiksa tanpa didampingi kuasa hukum yang kompeten.
Publik Bereaksi: Pedagang Kecil Jadi Korban
Kabar ditangkapnya penjual es jinjing dan pekerja warung kopi dalam operasi pembubaran demo Grahadi langsung viral di media sosial sejak Jumat malam. Banyak warganet mengungkapkan keprihatinan mendalam atas nasib orang-orang kecil yang sekadar mencari nafkah di keramaian tersebut, namun tanpa sengaja terseret dalam pusaran situasi yang memanas.
Berbagai tanggapan bermunculan, dari kekhawatiran soal potensi kriminalisasi terhadap warga biasa, hingga pertanyaan tentang prosedur seleksi yang digunakan aparat dalam mengidentifikasi pelaku di tengah kondisi yang penuh kekacauan. Sebagian pihak juga menyoroti pentingnya perlindungan hak-hak pedagang kaki lima yang selama ini kerap menggantungkan penghasilan dari keramaian event maupun demonstrasi di sudut-sudut kota besar.
Proses Pemeriksaan Masih Berlangsung di Mapolrestabes
Hingga Sabtu pagi (27/6/2026), proses pemeriksaan terhadap ke-13 orang yang diamankan masih terus berlangsung di Mapolrestabes Surabaya. Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie Sulistiawan menyampaikan bahwa pihaknya masih melakukan pendalaman terhadap dugaan keterlibatan masing-masing orang dalam insiden perusakan dan pelemparan yang terjadi semalam.
Luthfie memastikan proses pengamanan berlangsung tanpa menimbulkan luka pada para personel kepolisian yang bertugas. Ia juga menegaskan bahwa pihaknya menyambut positif kehadiran pendamping hukum dari KontraS Surabaya, dan mempersilakan proses pendampingan berjalan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Publik menantikan kejelasan status hukum para pedagang kecil yang terjaring dalam operasi ini sesegera mungkin.
Catatan: Hak Warga di Tengah Aksi Massa
Kasus ini kembali membuka diskusi yang lebih luas mengenai perlindungan hak-hak warga sipil yang tidak terlibat dalam demonstrasi namun kebetulan berada di sekitar lokasi. Dalam banyak insiden serupa di berbagai kota, pedagang kaki lima kerap menjadi pihak yang paling rentan — tidak memiliki kuasa untuk pergi saat situasi tiba-tiba memanas, namun juga tidak memiliki perlindungan yang memadai ketika operasi pengamanan digelar secara masif dan cepat oleh aparat.
KontraS Surabaya memastikan akan terus memantau perkembangan kasus ini dan menyampaikan update kepada publik, termasuk apabila ditemukan indikasi pelanggaran prosedur dalam proses penangkapan yang terjadi dalam suasana pembubaran demonstrasi Grahadi malam kemarin.