JATIM24, Surabaya - Kota Surabaya dilanda banjir selama dua hari berturut-turut pada Senin dan Selasa, 22-23 Juni 2026, akibat hujan deras yang turun di luar pola prediksi musim kemarau. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi secara terbuka meminta maaf kepada seluruh warga atas dampak genangan yang mengganggu aktivitas jutaan orang di berbagai penjuru kota, sekaligus memastikan seluruh proyek drainase yang sedang berjalan tidak akan dihentikan demi kepentingan jangka panjang.
31 Titik Banjir dalam Dua Hari
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya mencatat total 31 titik genangan dan banjir terjadi sepanjang dua hari kejadian, dengan 16 titik di antaranya terpantau aktif pada Selasa (23/6/2026) saja. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Surabaya Linda Novanti mengonfirmasi bahwa penanganan cepat dilakukan secara paralel oleh tim gabungan, dengan 12 dari 16 titik genangan hari Selasa berhasil surut sebelum pukul 11.00 WIB.
Sementara itu, empat titik masih dalam proses penanganan hingga siang hari, yakni di Jalan Nginden Intan Timur, Jalan Taman Panjang Jiwo Permai, Jalan Manyar Rejo, dan Jalan Raya Pandugo. Selain genangan, kejadian pada Selasa juga disertai empat pohon tumbang yang tersebar di berbagai titik kota serta satu unit rumah warga yang mengalami kerusakan akibat cuaca ekstrem.
Total genangan dalam dua hari (22-23 Juni 2026): 31 titik.
Ketinggian air bervariasi antara 10 hingga 60 sentimeter.
Genangan tertinggi (60 cm) tercatat di kawasan Simo Kalangan dan Graha Famili Selatan.
Empat pohon tumbang dan satu rumah rusak tercatat pada Selasa pagi.
Wali Kota Minta Maaf, Proyek Drainase Tetap Jalan
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi secara langsung menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh warga atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh banjir dua hari berturut-turut ini. Ia mengakui bahwa salah satu faktor utama yang memperparah genangan adalah adanya proyek pembangunan dan normalisasi saluran drainase yang tengah berjalan secara masif di berbagai titik kota, termasuk di Jalan Ahmad Yani, Tanjungsari, Simo, MERR, dan Imam Bonjol.
Dalam proses pengerjaan, sebagian saluran harus ditutup sementara menggunakan karung pasir atau sandbag agar area galian tetap aman selama konstruksi berlangsung. Ketika hujan deras datang secara tiba-tiba dan melampaui kapasitas tampung saluran yang tersisa, genangan pun tak terhindarkan. Eri menyampaikan bahwa pihaknya memilih untuk tetap melanjutkan proyek ketimbang menghentikannya, mengingat penyelesaian infrastruktur drainase ini justru menjadi kunci untuk mencegah banjir yang lebih parah di masa mendatang, terutama menjelang musim hujan puncak pada November hingga Desember 2026.
Penyebab Teknis: Backwater, Pompa, dan Sandbag
Secara teknis, banjir yang melanda Surabaya dalam dua hari ini disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor yang terjadi secara bersamaan. Pertama, hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung lebih dari empat jam, terjadi di luar prediksi musim kemarau yang seharusnya sudah berlaku di Surabaya sejak pertengahan Juni. Kedua, fenomena backwater effect atau hambatan pembuangan air ke laut akibat pasang air laut yang membuat aliran sungai dari daratan ke muara mengalami perlambatan signifikan.
Faktor ketiga adalah kondisi teknis di lapangan, di mana sandbag yang dipasang di sejumlah proyek gorong-gorong aktif secara tidak langsung mengurangi kapasitas aliran saluran drainase. Ditambah dengan kerusakan tembok penahan di kawasan Simo yang tidak mampu menahan derasnya aliran air, kombinasi semua faktor ini menyebabkan air tidak dapat dibuang secara optimal meski seluruh rumah pompa dioperasikan secara penuh. Bahkan, sejumlah air yang sudah berhasil dipompa keluar dilaporkan kembali terdorong masuk ke daratan akibat tekanan pasang laut yang masih tinggi.
21 Mobil PMK Dikerahkan Sejak Dini Hari
Untuk mempercepat penanganan di lapangan, Pemkot Surabaya mengerahkan 21 unit kendaraan pemadam kebakaran (PMK) dan sekitar 10 kendaraan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) beserta perangkat daerah terkait. Eri menyampaikan bahwa seluruh armada tersebut telah bergerak keliling kota sejak pukul 02.30 WIB untuk melakukan penyedotan air di titik-titik rawan genangan. Tim gabungan dari BPBD, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM), serta Dinas Pemadam Kebakaran turut dikerahkan secara paralel.
Selain pengerahan armada, Pemkot Surabaya juga mengoptimalkan fungsi boezem atau kolam tampungan sementara sebagai penyangga debit air sebelum dialirkan kembali saat kondisi memungkinkan. Sejumlah lahan tambahan turut difungsikan sebagai tampungan sementara untuk mengurangi beban yang harus ditanggung saluran drainase utama.
Dampak ke Warga: Macet dan Sulit Cari Jalan
Banjir yang berlangsung dua hari berturut-turut menimbulkan dampak nyata bagi mobilitas warga Surabaya. Banyak pengendara motor terpaksa mencari jalur alternatif untuk menghindari genangan, yang pada gilirannya memicu kemacetan di jalan-jalan protokol di sekitar kawasan terdampak. Warga di sejumlah wilayah seperti Ngagel Tirto, Jagir Wonokromo, dan Taman Panjang Jiwo Permai mengeluhkan sulitnya akses menuju tempat kerja dan aktivitas sehari-hari selama dua hari tersebut.
Layanan transportasi publik seperti Suroboyo Bus dan Wara Wiri juga terdampak, dengan sejumlah rute terpaksa dialihkan sementara akibat kondisi jalan yang tergenang. Pemkot memastikan pengalihan rute ini bersifat sementara dan akan dinormalkan seiring surutnya genangan di seluruh titik terdampak.
Target Tuntas Sebelum Musim Hujan
Eri Cahyadi menegaskan komitmennya untuk merampungkan seluruh proyek drainase dan pemasangan box culvert yang tengah dikerjakan di Surabaya sebelum puncak musim hujan tiba pada November hingga Desember 2026. Ia menyatakan, meski saat ini proyek-proyek tersebut secara tidak langsung berkontribusi terhadap timbulnya genangan ketika hujan ekstrem datang secara tak terduga, penyelesaian infrastruktur ini justru menjadi satu-satunya solusi permanen untuk menghapus masalah banjir di Surabaya secara menyeluruh.
Warga Surabaya diimbau untuk terus memantau informasi terkini dari BPBD dan Pemkot terkait titik-titik yang masih berpotensi tergenang, terutama mengingat BPBD dan BMKG sebelumnya telah memperingatkan bahwa periode akhir Juni 2026 masih berpotensi menghadirkan pasang laut maksimum yang dapat memperparah genangan apabila hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.