JATIM24, Surabaya - Ratusan massa yang tergabung dalam aliansi Rakyat Surabaya Menggugat kembali menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung Negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, Senin (22/6/2026) sore. Ini merupakan aksi kedua aliansi tersebut di titik yang sama, setelah aksi perdana digelar sepekan sebelumnya pada 15 Juni 2026.
Long March dari Bambu Runcing ke Grahadi
Massa aksi mulai bergerak dari Taman Monumen Bambu Runcing, Surabaya, dengan berjalan kaki sejauh sekitar 800 meter menuju Gedung Negara Grahadi. Kerumunan mulai memadati Jalan Gubernur Suryo sejak sekitar pukul 15.30 WIB, sementara aparat keamanan dari kepolisian berjaga di sekitar lokasi untuk memastikan aksi berlangsung tertib. Akibat banyaknya massa yang berkumpul, arus lalu lintas di ruas jalan tersebut terpaksa dialihkan sementara oleh petugas.
Massa berasal dari gabungan elemen mahasiswa, masyarakat sipil, dan buruh.
BEM Nusantara Jawa Timur turut bergabung dalam aksi kali ini.
Long march sepanjang 800 meter dari Bambu Runcing ke Grahadi.
Jalan Gubernur Suryo sempat ditutup sementara imbas padatnya massa.
Tuntutan Utama: Nawa Nestapa Rezim
Koordinator lapangan aksi menyampaikan bahwa tuntutan tertinggi yang dibawa massa kali ini adalah mendesak Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk mengundurkan diri dari jabatan masing-masing, disertai tuntutan pembentukan pemerintahan transisi sesuai mekanisme konstitusional yang diatur dalam Pasal 8 ayat (3) UUD NRI 1945.
Aliansi merujuk pada sembilan poin yang mereka sebut sebagai Nawa Nestapa Rezim, meliputi sejumlah persoalan yang dinilai mencerminkan kegagalan pemerintahan saat ini, antara lain:
Krisis legitimasi dan dugaan pelanggaran etika konstitusional.
Melemahnya negara hukum dan akuntabilitas kekuasaan.
Militerisasi kekuasaan dan kemunduran supremasi sipil.
Memburuknya kondisi sosial-ekonomi rakyat dan penguatan oligarki.
Kegagalan perlindungan kelompok rentan dan minoritas.
Krisis lingkungan hidup dan perampasan ruang hidup rakyat.
Juru Bicara: Resonansi Harus Meluas
Juru bicara aliansi, yang merupakan peneliti muda dari Fakultas Hukum Universitas Airlangga (Unair), menegaskan bahwa massa tidak menuntut agar pejabat menemui mereka secara langsung, melainkan meminta agar suara rakyat benar-benar didengar oleh pemangku kekuasaan. Gedung Negara Grahadi dipilih kembali sebagai titik aksi karena dinilai memiliki resonansi simbolis yang kuat sebagai salah satu kawasan strategis di jantung kota Surabaya.
Massa juga menyerukan konsolidasi yang lebih luas di kalangan masyarakat sipil untuk mendukung agenda perubahan yang mereka perjuangkan, sembari menegaskan bahwa aksi hari ini merupakan bagian dari gerakan yang akan terus berlanjut apabila tidak ada respons konkret dari negara.
Wagub Jatim: Hormati Pilihan Massa
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak menyatakan menghormati sepenuhnya pilihan massa yang kembali menjadikan kawasan Grahadi sebagai titik penyampaian aspirasi. Ia menyebut Gedung Negara Grahadi maupun gedung pemerintahan lain di sekitarnya merupakan ruang publik yang sah bagi warga untuk menyampaikan suara mereka, dan pemerintah daerah tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Emil juga menghormati keputusan massa yang menyatakan tidak ingin ditemui langsung oleh pejabat pemerintahan, karena massa lebih mengutamakan bahwa aspirasi mereka dapat tersampaikan dan didengar secara luas oleh publik maupun pemerintah pusat.
Aksi Berlanjut, BEM SI Jatim Menyusul
Aliansi Rakyat Surabaya Menggugat menyatakan akan terus menggelar aksi-aksi lanjutan selama aspirasi mereka belum mendapat respons yang dianggap memadai. Di sisi lain, Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Wilayah Jawa Timur juga tengah mempersiapkan aksi terpisah dalam waktu dekat, menandakan gelombang demonstrasi di Surabaya belum menunjukkan tanda-tanda mereda dalam waktu dekat.
Aksi-aksi demonstrasi semacam ini mencerminkan dinamika aspirasi publik yang terus berkembang, sekaligus menjadi ujian bagi aparat keamanan dan pemerintah daerah dalam menjaga keseimbangan antara perlindungan hak berekspresi warga dan kelancaran aktivitas kota sehari-hari.