JATIM24, Banyuwangi - Rangkaian Banyuwangi Festival 2026 kembali menghadirkan salah satu ritual adat paling memukau dari Suku Osing, yakni Keboan Aliyan, yang digelar di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi. Upacara adat penuh nilai spiritual ini menjadi daya tarik wisata budaya yang sayang untuk dilewatkan, terutama bagi wisatawan yang tengah menikmati libur awal sekolah semester genap.
Ritual Sakral Sarat Nilai Leluhur
Keboan Aliyan merupakan ritual adat khas masyarakat Suku Osing di Desa Aliyan yang telah diwariskan secara turun-temurun selama berabad-abad. Dalam ritual ini, warga desa berdandan menyerupai kerbau dengan olesan arang hitam di sekujur tubuh, kemudian melakukan teatrikal bercocok tanam di area persawahan sebagai bentuk permohonan berkah kesuburan dan hasil panen yang melimpah kepada leluhur.
Ritual digelar di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi.
Peserta mengoleskan arang hitam di tubuh dan berpenampilan layaknya kerbau.
Merupakan bagian dari kalender Banyuwangi Festival 2026 yang masuk KEN Kemenpar.
Wisatawan diimbau berpakaian sopan dan datang lebih awal untuk posisi terbaik.
Masuk Karisma Event Nusantara 2026
Keboan Aliyan menjadi salah satu dari sebelas event unggulan Jawa Timur yang berhasil masuk dalam program Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 yang dikelola Kementerian Pariwisata. Keikutsertaan dalam KEN menjadi pengakuan nasional atas kualitas dan keunikan budaya Banyuwangi, sekaligus mendongkrak daya tarik Banyuwangi sebagai destinasi wisata budaya yang bersaing di tingkat nasional.
Banyuwangi sendiri dikenal sebagai salah satu daerah dengan kalender event terbanyak di Indonesia, dengan lebih dari 80 event sepanjang tahun yang memadukan unsur budaya, olahraga, dan wisata alam secara harmonis.
Imbauan bagi Wisatawan
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi mengimbau para wisatawan yang berniat menyaksikan Keboan Aliyan untuk datang lebih awal guna mendapatkan posisi menonton yang baik, mengingat ritual ini biasanya dihadiri oleh ribuan warga dan pengunjung dari berbagai daerah. Wisatawan juga diharapkan mengenakan pakaian sopan dan mematuhi seluruh arahan panitia lokal selama ritual berlangsung, sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai sakral yang terkandung dalam upacara adat ini.
Pengunjung disarankan tidak menyentuh atau mengganggu para peserta ritual serta menjaga ketertiban agar prosesi dapat berlangsung dengan lancar dan khidmat sesuai tradisi yang telah dijalankan oleh masyarakat Osing selama ratusan tahun.
Potensi Wisata Budaya Banyuwangi
Selain Keboan Aliyan, Banyuwangi masih memiliki serangkaian agenda festival budaya menarik hingga akhir tahun 2026, termasuk Banyuwangi Ethno Carnival pada Juli, serta Gandrung Sewu yang menampilkan ribuan penari di Pantai Boom pada Oktober mendatang. Kombinasi kekayaan budaya dan keindahan alam menjadikan Banyuwangi sebagai destinasi wisata yang terus tumbuh dan semakin diminati wisatawan dalam dan luar negeri sepanjang tahun.
Pemkab Banyuwangi terus berinvestasi dalam promosi pariwisata berbasis budaya lokal, dengan keyakinan bahwa kearifan lokal Suku Osing memiliki nilai jual yang tinggi di pasar wisata domestik maupun internasional bila dikemas dengan baik dan berkelanjutan.
Kontribusi bagi Ekonomi Warga Lokal
Setiap penyelenggaraan Keboan Aliyan tidak hanya menjadi momen pelestarian budaya, tetapi juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga Desa Aliyan dan sekitarnya. Pedagang makanan khas Osing, pengrajin oleh-oleh, hingga penyewa kamar penginapan turut merasakan peningkatan pendapatan signifikan setiap kali festival digelar. Banyuwangi terus membuktikan bahwa kekayaan budaya lokal dapat menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat yang berkelanjutan apabila dikelola dan dipromosikan dengan tepat kepada wisatawan dari seluruh penjuru negeri.